Jejak Arya Telabah.
Jejak Arya Telabah.
Di dalam lembaran sejarah kedatangan para Arya dari Majapahit ke Pulau Bali, nama Arya Telabah tercatat sebagai salah satu tokoh yang meletakkan dasar kehidupan masyarakat di wilayah selatan Bali, khususnya di daerah Kuta dan Pering. Kisah beliau bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan bagian dari identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi, baik melalui naskah-naskah kuno yang ditulis di atas daun lontar maupun melalui tutur lisan yang dijaga kesuciannya oleh masyarakat setempat.
Kisah perjalanan, kedatangan, hingga masa akhir hidup Arya Telabah di wilayah Kuta dan Pering tercatat secara rinci di dalam naskah Babad Arya Jawi. Di sana diceritakan bagaimana beliau menempuh perjalanan jauh, meninggalkan tanah asalnya demi menjalankan amanah untuk membangun kehidupan yang lebih tertib dan damai di tanah baru yang menjadi wilayah kekuasaannya. Babad ini menjadi saksi tertua tentang jejak langkah beliau, mulai dari kedatangan, penempatan wilayah, hingga tempat peristirahatan terakhir beliau.
Secara lebih khusus, kisah kedatangan Arya Telabah, penetapan wilayah kekuasaannya, serta silsilah keturunannya yang terus berkembang diwariskan melalui naskah Babad Kuta atau sering juga disebut Babad Pering. Naskah ini menjadi catatan penting bagi masyarakat setempat, karena di dalamnya terjelaskan bagaimana nama-nama tempat, batas wilayah, dan hubungan antar-desa di kawasan Kuta dan Pering terbentuk sejak masa kedatangan beliau. Dari sini pula masyarakat dapat menelusuri asal-usul dan hubungan kekerabatan yang masih dirasakan hingga saat ini.
Posisinya di antara para Arya lainnya yang datang bersama dari Majapahit dapat ditemukan di dalam Lontar Pamancangah Arya. Naskah ini menguraikan pembagian wilayah kekuasaan secara menyeluruh di seluruh pulau Bali, sehingga kita dapat memahami letak dan lingkup wilayah yang dipercayakan kepada Arya Telabah serta kedudukannya sejajar dengan para Arya lainnya yang juga menempati berbagai daerah di Bali. Hal ini menunjukkan bahwa penempatan beliau di Kuta-Pering bukan kebetulan semata, melainkan bagian dari tatanan yang disusun dengan bijaksana pada masa itu.
Konteks pemerintahan di masa awal kedatangan Majapahit ke Bali juga menyebutkan nama beliau di dalam Babad Dalem. Di dalamnya tercatat nama-nama penguasa daerah yang membantu menjaga ketertiban di berbagai pelosok pulau, termasuk di antaranya Krian Telabah — nama lain yang merujuk kepada Arya Telabah. Hal ini memperkuat bukti bahwa peran beliau diakui tidak hanya di daerah tempat beliau tinggal, tetapi juga dalam struktur pemerintahan yang lebih luas di bawah kepemimpinan pusat.
Selain catatan-catatan tertulis tersebut, sebagian besar kisah tentang Arya Telabah tetap hidup dan terpelihara melalui Silsilah Mahagotra serta tradisi lisan yang disampaikan turun-temurun oleh keluarga dan masyarakat setempat, terutama di daerah Kuta dan Pering. Banyak hal yang mungkin tidak tertulis di atas lontar, namun tetap terjaga dalam ingatan masyarakat — berupa pesan-pesan kebajikan, semangat pengorbanan, dan teladan yang beliau tinggalkan.
Perlu dipahami pula bahwa hingga saat ini belum ditemukan sebuah naskah lontar yang berdiri sendiri dan secara khusus berjudul "Lontar Arya Telabah". Kisah dan jejak beliau tersebar di berbagai babad daerah dan saling melengkapi satu sama lain. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk juga berkonsultasi dengan ahli Babad agar penjelasan yang diterima menjadi lebih utuh, seimbang, dan terjaga kebenarannya. Semoga teladan Arya Telabah senantiasa menginspirasi kita untuk mencintai tanah kelahiran dan menghormati jejak para leluhur kita.
Komentar