Bab 24 Kebo Iwa.
Bab 24 Kebo Iwa.
Di dalam lembaran-lembaran daun lontar yang telah berusia ratusan tahun, terukir kisah tentang seorang tokoh yang begitu luar biasa, yang namanya senantiasa diingat dan dihormati oleh masyarakat Bali hingga saat ini. Beliau adalah Kebo Iwa — sosok pemuda yang berhati lembut, panglima perang yang gagah berani, sekaligus arsitek pembangun tempat-tempat suci yang penuh kebijaksanaan. Namanya tercatat dalam berbagai naskah kuno Bali sebagai bukti kebesaran jiwa dan jasa-jasanya yang tak terhapus oleh waktu.
Sumber tertulis tertua yang memuat kisah Kebo Iwa adalah Lontar Purana Bali Dwipa. Di dalam lontar ini disebutkan dengan jelas bahwa Kebo Iwa hidup pada masa pemerintahan Prabu Sri Astasura Ratna Bumi Banten, yang memerintah Bali pada abad ke-14. Kedudukannya sangat tinggi dan terhormat di mata raja maupun rakyat. Beliau dipercaya memegang dua tugas besar sekaligus: sebagai panglima militer yang memimpin pertahanan kerajaan, dan sekaligus sebagai Undagi, yaitu arsitek atau ahli pembangunan yang dipercaya merancang dan membangun pura-pura serta tempat-tempat suci di seluruh Bali. Dengan demikian, Kebo Iwa bukan sekadar orang yang kuat secara fisik, melainkan juga orang yang berilmu tinggi, bijaksana, dan memahami tata cara pembangunan tempat pemujaan sesuai dengan aturan suci yang berlaku saat itu.
Kisah kehidupan Kebo Iwa diceritakan secara lebih rinci dan mendalam di dalam Lontar Babad Bali, yang juga dikenal sebagai Lontar Babad Blahbatuh. Di sini dikisahkan asal-usul kelahirannya, masa mudanya yang penuh keajaiban, hingga jasa-jasanya dalam membangun pura-pura yang hingga kini masih berdiri megah dan disucikan oleh umat. Disebutkan pula bahwa Kebo Iwa berasal dari Desa Blahbatuh, dan beliau adalah putra dari seorang panglima yang bernama Karang Buncing. Namun yang paling menyentuh hati dari kisah yang tertulis di lontar ini adalah akhir hayat beliau. Kebo Iwa gugur bukan karena kalah dalam pertempuran yang jujur, melainkan akibat muslihat licik yang dirancang oleh Gajah Mada, panglima besar Kerajaan Majapahit, yang ingin menaklukkan Pulau Bali. Kebo Iwa yang memiliki kekuatan luar biasa besar itu akhirnya tewas karena diperdaya — sebuah akhir yang hingga kini selalu mengundang rasa haru sekaligus bangga atas kesetiaan beliau kepada tanah air tercinta.
Selain kedua lontar tersebut, peran Kebo Iwa dalam pembangunan tempat suci juga tercatat di dalam Lontar Purana Pura Puseh Luhur Bedha. Di dalamnya tertulis bahwa Kebo Iwa turut berperan besar dalam pembangunan Pura Puseh Luhur Bedha yang terletak di Tabanan. Pembangunan pura ini ternyata bukan sekadar untuk tempat pemujaan semata, melainkan juga merupakan bagian dari persiapan pertahanan Pulau Bali yang sedang bersiap menghadapi serangan yang datang dari Kerajaan Majapahit. Hal ini menunjukkan betapa jauh pandang Kebo Iwa — beliau membangun tempat suci sekaligus memperkuat pertahanan tanah kelahirannya, demi menjaga keselamatan dan kemuliaan tanah Bali.
Perlu pula diketahui bahwa nama Kebo Iwa sesungguhnya bukanlah nama aslinya semata, melainkan sebuah gelar kehormatan yang penuh makna. Beliau juga dikenal dengan sebutan Kebo Wandira atau Kebo Taruna. Kata "Kebo" berarti kerbau, sedangkan "Wandira" dan "Taruna" berarti muda atau perjaka. Jadi arti nama itu adalah "Kerbau Muda" atau "Kerbau Perjaka" — sebuah gelar yang diberikan untuk melambangkan kekuatan yang luar biasa besar, sekaligus kesucian hati yang belum ternoda. Sebagaimana seekor kerbau muda yang kuat, gagah, namun tenang dan tidak menyakiti tanpa sebab, demikian pula Kebo Iwa — kuat mempertahankan kebenaran, namun lembut hatinya kepada sesama.
Demikianlah kisah Kebo Iwa yang terpatri di dalam lembaran-lembaran lontar peninggalan leluhur. Bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan pengingat bagi kita semua bahwa kekuatan yang sesungguhnya adalah kekuatan yang disertai kebijaksanaan, kesetiaan kepada tanah air, dan kesucian hati. Semoga kisah yang tertulis di dalam Purana Bali Dwipa, Babad Blahbatuh, dan Purana Pura Puseh Luhur Bedha ini senantiasa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, agar kita pun dapat menjadi orang yang berguna bagi sesama, membangun kebaikan di mana pun berada, dan setia menjaga warisan luhur yang dititipkan leluhur kepada kita.
Komentar