Bab 22 Jejak Dukuh Bujangga Sakti.

Bab 22 Jejak Dukuh Bujangga Sakti. 

Dalam lembaran sejarah dan mitologi Bali yang paling tua, nama Dukuh Bujangga Sakti selalu disebut dengan penuh hormat dan kekaguman. Beliau adalah sosok yang sangat sentral, figur legendaris yang hidup pada masa Bali Kuno, bahkan jauh sebelum pengaruh besar Majapahit datang ke pulau ini. Keberadaan beliau terekam jelas dalam berbagai naskah kuno yang menjadi saksi bisu peradaban awal di tanah Dewata.
 
Sumber yang paling mendasar dan sakral tertuang dalam Lontar Purana dan Babad Bali bagian mitologi. Di sana tertulis dengan tegas bahwa Dukuh Bujangga Sakti sesungguhnya adalah penjelmaan atau titisan dari Bhatara Siwa yang turun ke dunia. Terdapat kutipan suci yang berbunyi:
 
"Tedun Ida Bhatara Siwa ring Giri Toh Langkir (Gunung Agung) mapesengan Ida Bujangga Sakti, tedun Ida Bhatara Siwa ring Gunung Batur mapesengan Mpu Kamareka, tedun Ida Bhatara Siwa ring Gunung Batukaru mapesengan Kubayan..."
 
Dari kalimat tersebut diketahui dengan pasti bahwa Bujangga Sakti adalah wujud Bhatara Siwa yang menjelma di puncak Gunung Agung atau Giri Toh Langkir/Tolangkir. Pada masa itu, kondisi Bali masih sangat liar, dikuasai oleh kekuatan-kekuatan gaib, jin, raksasa, dan suasana yang masih gamang, jauh sebelum kedatangan pendeta besar seperti Mpu Markandya. Beliau hadir sebagai penerang dan penata kehidupan spiritual di masa yang penuh ketidaktahuan.
 
Kekuatan dan kebesaran beliau juga diakui dalam Babad Pasek Kayu Selem. Disebutkan bahwa Ida Bhatara Bujangga Sakti dimohon hadir dan distanakan di Pura Jati Batur. Di tempat suci inilah beliau memegang peranan sangat vital, yaitu menyelesaikan dan memimpin segala upacara keagamaan bagi umat Hindu saat itu, termasuk bagi penduduk asli atau Bali Mula. Pura Jati Batur sendiri dikenal sebagai pura Bhagawanta atau pusat kekuatan spiritual yang dibangun oleh Mpu Jayamaireng, leluhur besar trah Pasek Kayu Selem, menjadikannya tempat yang sangat sakral.
 
Selain sebagai tokoh mitologis, nama Bujangga Sakti juga menjadi gelar kehormatan yang sangat tinggi dalam garis keturunan tertentu. Hal ini tercatat dalam Lontar Babad Dukuh Sakti dan Babad Dukuh Suladri. Disebutkan bahwa nama ini sering dikaitkan dengan trah Dukuh yang merupakan keturunan Pasek. Salah satu contohnya adalah Dukuh Suladri yang bermukim di Pesraman Tamanbali, yang menurunkan I Gde Pasek Sadri dan Pasek Sadra. Mereka kemudian menjadi pandita atau pemuka agama yang menyandang gelar Dukuh Sakti Pahang. Oleh karena itu, gelar Dukuh Bujangga Sakti dan Dukuh Sakti Pahang pada hakikatnya adalah gelar bagi para pandita sakti dari garis keturunan Pasek yang memiliki ilmu tinggi.
 
Tidak hanya dalam babad sejarah, kehebatan beliau juga terekam dalam dunia pengobatan tradisional. Dalam berbagai Lontar Usadha dan Lontar Panglukatan, Dukuh Bujangga Sakti dikenal sebagai balian sakti dan tabib yang sangat mahir. Banyak mantra-mantra sakti dan doa-doa pembersihan yang diturunkan atas nama beliau, yang hingga kini masih dipakai oleh para balian dan pemangku untuk menyembuhkan penyakit dan membersihkan diri dari hal-hal buruk.
 
Dalam konteks silsilah besar, Babad Pasek dan Babad Arya juga mencatat bahwa beliau adalah salah satu dari tiga kekuatan besar awal di Bali yang sejaman, bersama dengan Mpu Kamareka di wilayah Gunung Batur dan Kubayan di wilayah Gunung Batukaru. Mereka bertiga adalah pandita-pandita agung yang menjadi tiang agama di masa awal pembentukan peradaban Bali.
 
Sebagai catatan penting yang perlu dikenang, Dukuh Bujangga Sakti identik dengan kekuatan spiritual Gunung Agung. Namun gelar "Dukuh Sakti" juga diwariskan kepada keturunannya yang menjadi pandita. Hingga saat ini, Pura-pura Kawitan bagi trah Dukuh banyak ditemukan di wilayah Bangli, Karangasem, dan Buleleng, sementara nama besar beliau terus diagungkan di Pura Jati Batur. Naskah-naskah asli yang menceritakan kehebatan beliau pun masih tersimpan dengan baik di Gedong Kirtya Singaraja, terawat dalam klasifikasi naskah Tutur, Usadha, dan Babad, sebagai bukti abadi bahwa pernah ada sosok dewa yang turun menyinari bumi Bali.

Komentar